hari pakan dan sebungkus pensi
February 6th, 2011 by Adel Ilyas
Bila rabu dan sabtu menjelang.., pertanda saya harus melewati jalur lain untuk sampai ke puskesmas, karena jalur yang biasa saya lewati akan penuh sesak dengan aktivitas silaturrahim antara pedagang dan pembeli.
Hari pakan.., itulah sebutannya, setiap Rabu dan Sabtu. Pakan atau pekan disini berarti pasar, hendak ke pakan artinya hendak ke pasar. Pakan di bukittinggi adalah salah satu yang terbesar di wilayah sumatera barat, merupakan tempat berkumpulnya para pedagang dan pembeli dari seluruh penjuru negeri.
Yang paling saya risaukan di hari pakan adalah hujan, karena diantara pedagang itu banyak ibu-ibu tua yang berjualan hasil kebunnya.., menggelar labu siam, daun singkong, pisang dipinggir jalan beralaskan karung bekas dan tentu saja tanpa tenda untuk berteduh.., bisalah dibayangkan bila hujan lebat turun. tapi kata kd, ibu-ibu tua itu sudah dikuatkan oleh air hujan.., tak perlulah dirisaukan, cukup titipkan saja mereka pada Yang Maha Mengurus
Seperti biasa perhatian saya akan lebih tertuju pada berbagai makanan yang dijajakan, meskipun ini tahun ke 3 saya tinggal dikampung halaman ini tapi tetap saja ada satu dua jenis makanan yang terlewatkan. Hmm.. nyam.. nyam.., ketupat kapau dengan berbagai macam pilihan, ada yang pake bihun goreng atau pake campuran pical mie (pecel), lupis, bubur ketan item dan bubur putih.
Juga berbagai macam kerupuk kampung khas bukittinggi.., sanjay balado, karak kaliang (yang angka 8), karupuak jariang (krupuk jengkol), rakik maco (krupuk yang ada udang kecil ditengahnya), bolu kering cetakan ikan, pinyaram (kue cucur), godok (campuran pisang dan terigu trus digoreng bulat)..,
bisa seharian saya bila harus menuliskan semua jenis makanan itu, yang saya sebutkan diatas itu hanyalah sebagian kecil makanan khas bukittinggi.., sedangkan di pakan itu ada buaaannnyyak makan dari luar daerah yang dijajakan, seperti palai rinuak (pepes ikan danau yg kecil-kecil) dari maninjau, yang tak boleh terlewat dari makanan khas danau ini adalah.. Pensi..!!! hahaha.., sejenis kerang danau berukuran kecil.. dimasak dengan bumbu yang cukup pedas, sehingga kadang yang merepotkan saya pada saat menikmatinya bukanlah cangkangnya, tapi justru pedasnya yang cukup keterlaluan.. tapi teteuupp.. t.o.p.b.g.t
selanjutnya kue pancuang.. ihh cukup menyeramkan juga namanya
.. sebenarnya di bandung juga ada yang mirip, bandros dengan bahan dasar kelapa muda.. hanya saja bandros ga pake gula jadi rasanya gurih sedangkan kue pancuang lebih manis dan setiap menggigit kerasa kelapa muda yang diparut.. enak..? sudah pasti..!!!
Berikutnya adalah buah2an kampung.. manggis mentah yang sudah dikupas, bagi saya lebih enak daripada manggis yang sudah matang karena bijinya bisa dikunyah habis.. ada juga kalimuntiang, hihihi lucu ya namanya.. saya ga tau pohonnya kaya apa, kemungkinan buah dari hutan.. berwana ungu tua, berukuran lebih kecil daripada kelereng dan bila kita membeli akan ditakar pake tabung bambu, rasanya.. manis sedikit kelat **duh.., kelat apaan sech..**
Untuk sementara.., cukuplah sedikit gambaran mengenai pakan di kota saya, bukittinggi.. lain kali disambung lagi. Mungkin sabtu ini saya akan singgah ke salah satu tenda katupek kapau, dan pasti hanya ada satu kesimpulan..
>>bahwa yang paling nikmat dari seluruh macam makanan kampung ini adalah biusan nostalgianya
Tags: Bukittinggi, gastronomy, godok, kalimuntiang, katupek kapau, kue pancuang, manggis muda, pensi

Luar biasa…ini postingan “terbaik” dari bundo, apalagi soal makanan kampung halaman, godok, pensi (tapi jangan pake sambel..
, rinuak, kue pancuang, kue bolu kering cetakan ikan dan katupek campur mie pecel, hmmm….
ck..ck..ck… kasian yang udah lama ga mudik
yah.., beginilah klo tulisan saya diamati oleh pengamat sastra aliran kuliner
,
, 
baik atau tidaknya postingan saya tergantung pada
seberapa banyak saya memasukkan unsur makanan kesukaan beliau