TdRM #6 : Turun Mandi di Kaki Gunung Talang
October 24th, 2012 by Adel Ilyas

Oi nak kanduang sibiran tulang
Sauaklah aie mandikan diri
Buliah nak banyak urang nan sayang
Tinggikan cito randahkan hati
[anak kandung belahan jiwa
ambillah air mandikan diri
jika ingin disayang oleh semua
maka tinggikanlah cita rendahkan hati]
~ pepatah minang
Di lembah itu kami mendapat dua kejutan, satu bangunan masjid tua nan cantik dan serombongan ibu yang sedang menjalankan adat turun mandi di halaman luar masjid, kejutan perjalanan yang menyenangkan buat peserta TdRM waktu itu #khususnya MS. Sebelum aku dituduh sebagai penulis blog PHP [Pemberi Harapan Palsu] oleh MS, maka baiknya tulisan dan foto tentang acara turun mandi ini aku tayangkan.


Para ibu tersebut datang dari arah yang berlawanan dengan kami yang turun dari jalan raya, mereka berkumpul di sebuah sudut di halaman luar masjid di mana terdapat banda kecil dengan air yang mengalir dan terdapat juga talang air yang mengucurkan air bersih langsung dari sumbernya.
Mereka menjalankan upacara adat tersebut dengan amat sederhana dan cepat sekali, tidak seperti upacara turun mandi yang dilaksanakan di kota dengan menggunakan susunan acara yang biasanya cukup panjang. Mereka pun tampaknya hanya terdiri dari keluarga dekat saja, beserta dukun bayi yang memandikan sang bayi langsung di bawah kucuran mata air dari gunung talang yang disalurkan melewati pipa.


Saat itu matahari bersinar amatlah cerahnya, buat para ibu di kota mungkin tak akan tega membawa bayinya yang masih merah untuk turun ke sumber air buat dimandikan. Aku juga berpikir, kenapa acaranya tidak dilakukan di halaman rumah saja ya..? setelah cari tahu, tenyata upacara ini juga dimaksudkan untuk memperkenalkan kepada masyarakat bahwa telah lahir keturunan baru dari sebuah suku atau keluarga tertentu, sehingga membawanya ke sumber air terdekat merupakan kontak pertama sang bayi dengan lingkungan.
Upacara turun mandi dilaksanakan di sungai (batang aia), dan yang membawa anak ini dari rumah ke sungai adalah orang yang berjasa membantu proses persalinan (dukun nan manjawek). Mungkin karena itu juga acara turun mandi ke sumber air ini masih terus dilakukan di desa-desa karena masih banyak yang melahirkan dengan bantuan dukun bayi.
Aku lupa buah kelapa yang dipegang oleh (mungkin) etek-nya si bayi itu akhirnya dibelah kemudian airnya disiramkan pada si bayi atau bagaimana..? nanti aku tanyakan pada MS yang menyaksikan secara detil.

horee, udahan mandinya..


Bayi perempuan nan cantik ini kemudian didandani (hanya sekedar perlambang saja), keluarga terlihat membawa bedak dan cermin.
MS barusan memberi info, bahwa waktu itu kelapa tidak dibelah tapi hanya dilewatkan ke tubuh si bayi. Kemudian bayi perempuan dikacain, disisir dan dibedaki biar jadi gadis cantik. Jika bayinya laki-laki maka dibawakan sarung dan kopiah. #biar tampan dan sholeh pastinya
Jika melihat pada rangkaian upacara turun mandi yang lengkap, ternyata banyak sekali urutan yang harusnya dijalankan.. sedangkan acara yang kami saksikan di atas adalah upacara yang sangat sederhana, dan menurutku demikian lebih baik agar sang bayi bisa segera kembali ke rumah. Yang penting inti acara untuk membawa sang bayi berkontak dengan lingkungannya untuk pertama kali telah terlaksana.


bersiap pulang..


beriringan kembali ke rumah..

kemeriahan yang hanya sekejap, meninggalkan denting
setelah bayang-bayang menghilang di balik bukit
kesunyian di lembah itu semakin terasa..
Tags: alahan panjang, gunung talang, masjid tuo kayu jao, Minangkabau, TdRM, turun mandi
[...] TdRM #6 : Turun Mandi di Kaki Gunung Talang [...]
[...] senada dengan tradisi turun mandi di Gunung Talang yang digelar mbak Monda bersama Uni Adel dalam TdRM?. Dengan pepatah Minang puitis sarat makna, berikut [...]